Orang Muda dan Startup

Orang muda dan startup dalam isu demografi ini mendapat hikma tersendiri sebagai sebuah alternatif memulai usaha. Menurut Anwar, salah satu orang yang berkecimpung di bidang startup, khususnya di Kota Makassar, menganggap bahwa maraknya isu startup adalah salah satu pemicu besar kreativitas orang-orang muda yang ada di Indonesia. Pesatnya teknologi menjadi perhatian khusus orang muda berusia 25 tahun ini, bagaimana kolaborasi antara teknologi dan usaha-usaha kecil maupun menengah menjadi perpaduan yang berujung pada peluang meluasnya jaringan usaha.

“Memulai usaha pun adalah startup, walaupun teknologi yang dipakai bukan berbasis digital,” ungkap Anwar, menjelaskan dikotomi antara startup yang lebih akrab dengan digitalisasi dan yang tidak. Penggunaan teknologi menurutnya adalah persoalan pemasaran saja. Terserah mau berbasis apa: website, aplikasi dekstop, sosial media, atau membuat aplikasi mobile.

Startup adalah perusahaan rintisan, umumnya disebut startup (atau ejaan lain yaitu start-up), merujuk pada semua perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Istilah “startup” menjadi populer secara internasional pada masa gelembung dot-com, di mana dalam periode tersebut banyak perusahaan dot-com didirikan secara bersamaan.[1]

MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), menurut Anwar adalah sebuah ketakutan tersendiri sekaligus menjadi sebuah pemicu kreativitas bagi kalangan muda di Indonesia. MEA adalah pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat[2]. MEA juga menjadi salah satu pemicu maraknya startup di Indonesia. Membangun startup menurutnya tidaklah mudah dan tidak juga sulit. Sulitnya adalah menemukan ide untuk memulai usaha, mudahnya mungkin dibagian pemasaran jika ingin menggunakan teknologi digital untuk membantu melakukan promosi atau pemasaran, apalagi orang muda saat ini di Indonesia yang dikenal sebagai generasi Mileneal,[3] terhimpun pada satu titik: internet. Jadi melemparkan iklan dengan menggunakan media apapun berbasis digital, bisa menemukan konsumennya dengan mudah.

Anwar saat ini sedang berkecimpung dan telah ikut berkontribusi menggarap dua starup: Eproc dan Makassar App. Dia menekankan bahwa semangat yang dibawa dalam mebangun dua startup ini adalah semangat kebangsaan untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Walaupun Anwar secara lugas mengatakan bahwa efek dari maraknya startup adalah timbulnya rasa malas pada orang muda bahkan kebanyakan masyarakat Indonesia karena dimanjakan oleh teknologi, digitalisasi lebih khususnya. Efek dari startup yang dimaksud adalah startup yang menggunakan teknologi digital. Otomatisasi[4] menyebabkan kurangnya gerak manusia dalam berbuat atau mengakses sesuatu yang dilakukan secara rutin dengan alat, menyebabkan terciptanya habitus malas. Tidak semuanya efek negatif, positifnya adalah munculnya kreativitas karena terjepit kebutuhan hidup dan kurangnya ruang yang memerlukan tenaga manusia, atau taruhlah maraknya warung kopi karena banyaknya para penggiat startup berbasis digital yang menjadikan tempat itu sebagai kantor sementara dengan bermodalkan laptop dan jaringan WIFI saja.

18402793_1411471735542681_6074505881778605008_n.jpg

Indonesia berada di peringkat ketiga startup yang menggunakan teknologi digital terbanyak dengan jumlah 1, 567 startup berada di bawah Amerika dengan jumlah 37, 486 startup, dan India dengan jumlah 3, 937 jumlah startup.[5] Menurut Anwar, salah satu alasan kita harus bersyukur dengan maraknya isu startup di Indonesia dan dunia adalah berubahnya paradigma pendidikan terutama di tingkat kampus yang awalnya hanya menciptakan lulusan untuk mencari pekerjaan, menjadi bagaimana membuat lapangan kerja. Ini adalah kesempatan untuk orang muda menunjukkan kreativitasnya, untuk tampil di ranah publik, untuk mengganggu dan ikut bersaing dengan para pengusaha yang sudah mapan dalam usahanya.

TEKNOLOGI DAN GENDER

Startup menjadi salah satu pemicu banyaknya perempuan yang tampil di publik akhir-akhir ini. Sebut saja Diajeng Lestari (Hijup), Hanifah Ambadar (Female Daily), Catherine Hindra Sutjahyo (Zalora Indonesia), Cynthia Tenggara (BerryKitchen), Alamanda Shantik (ex Gojek), Leonika Sari (Reblood), Grace Natalia (Asmaraku), Shinta Nurfaizah (Lemonilo), dan masih banyak lagi.[6] Budaya patriarki yang selama ini menjadikan perempuan dalam posisi inferior akhirnya perlahan terkikis oleh teknologi yang sangat pesat. Teknologi yang muncul dewasa ini tidak lagi bernuansa maskulinitas. Semua bisa mengakses dan menggunakannya dengan sangat mudah.

Munculnya gerakan cyberfeminis melengkapi ini. Sebuah gerakan praksis yang menawarkan utopia pembebasan kaum perempuan dari segala macam dominasi patriarkal.[7] Para cyberfeminis berpendapat, bahwa berbeda dengan kebanyakan teknologi yang didominasi oleh maskulinitas. New media (internet) menyediakan sebuah ruang untuk mereka untuk bisa berinteraksi secara aktif dengan teknologi, dengan kata lain, dalam pendapat para cyberfeminis, new media adalah teknologi yang memiliki sifat feminin, dibanding maskulin. Para cyberfeminis bahkan melihat new media sebagai ruang penting bagi perempuan untuk “mengklaim wilayah mereka”, dan menggunakan teknologi untuk mendapatkan kekuasaan dan otoritas dalam masyarakat kontemporer. Untuk tujuan ini, individu dan kelompok-kelompok menciptakan situs web, menyelenggarakan kelompok diskusi, dan sumber-sumber online lainnya untuk perempuan tertarik untuk belajar lebih banyak tentang teknologi internet, dan juga untuk perempuan yang sudah bekerja di bidang teknologi informasi. Kelompok-kelompok ini percaya bahwa pemberdayaan perempuan dapat dicapai melalui pengetahuan perempuan yang lebih besar dari teknologi media baru, dan melalui penciptaan lebih banyak kesempatan untuk maju dalam lini  kerja.[8]

Teknologi dan segala efeknya nampaknya harus manfaatkan lihat secara bijak. Bagaimanapun semuanya adalah alat, ia bisa jadi buruk dan bisa juga jadi baik tergantung motifnya. Teknologi ini pun yang akhirnya menjadi alat untuk perempuan muncul di hadapan publik. Orang muda, terutama perempuan, akhirnya punya kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam banyak hal. Teknologi akhirnya menjadi subjek jika kita, orang muda, tidak bisa memahami struktur kerja dan konsep teknologi bergerak. Misalnya, beribu-ribu anak muda[9] saat ini telah menjadi objek dari game-game online yang muncul. Rutinitas dan pengaturan konsep game yang mengharuskan kita membuka game jam segini, membuat itu jam segini, dan fucking lainnya yang akhirnya membuat penggunanya larut dalam nuansa maya yang menjadi candu.

Sebelum menulis ini, saya menuju ke kampus. Di jalanan begitu banyak perempuan. Motor matic menjadi sebuah teknologi lain dari berhasilnya teknologi mempraktikkan kesetaraan gender, mengonfirmasi pembicaraan di halaman belakang Kampung Buku bersama Kak Ibrahim. Sebelum akhirnya beberapa perempuan—walaupun ada juga beberapa laki-laki—harus menepi karena macet yang sudah seperti anak kandung bagi kehidupan perkotaan, dan jalan raya kembali didominasi laki-laki. []

Tulisan ini telah terbit di zine Orazine. Diterbitkan ulang untuk keperluan pendidikan dan jangkauan.

———-

[1] Wikipedia.org, https://id.wikipedia.org/wiki/Perusahaan_rintisan, diakses pada 27 Oktober 2017, pukul 15.19 WITA.

[2] BBC Indonesia, http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/08/140826_pasar_tenaga_kerja_aec, diakses pada 27 Oktober 2017, pukul 15. 35 WITA.

[3] Sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980- 2000an. Maka ini berarti millenials adalah generasi muda yang berumur 17- 37 pada tahun ini.

[4] Menurut KBBI adalah penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin yang secara otomatis melakukan dan mengatur pekerjaan sehingga tidak memerlukan lagi pengawasan manusia (dalam industri dan sebagainya).

[5] Startup rangking, http://www.startupranking.com/countries, diakses pada 27 oktober 2017, pukul 15, 57 WITA.

[6] Shopback, https://www.shopback.co.id/blog/10-wanita-indonesia-tangguh-yang-bekarya-di-startup-tanah-air, diakses pada 27 Oktober 2017, pukul 16, 23 WITA.

[7] Salim Alatas, https://salimalatas.wordpress.com/2013/11/02/cyberfeminisme-mencari-hubungan-teknologi-media-baru-dan-feminisme/, diakses pada 27 Oktober 2017, pukul 16, 30.

[8] Salim Alatas, https://salimalatas.wordpress.com/2013/11/02/cyberfeminisme-mencari-hubungan-teknologi-media-baru-dan-feminisme/, diakses pada 27 Oktober 2017, pukul 16, 35.

[9] Saya pernah menghitung jumlah orang yang online pada satu game, dan angkanya menyentuh ribuan user yang aktif bermain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s