Melayari Nasib dan Pulang ke Kampung

Stom kapal berbunyi seperti teriakan ibu memanggil anaknya pulang setelah seharian bermain pasir di laut. Saya bergegas, menyiapkan diri untuk turun ke bawah, menginjak tanah kelahiran saya, Nabire, Papua. Menggendong sebuah tas, kemudian turun mencari teman untuk mengangkat buku-buku bacaan yang sengaja saya bawa di dalam sebuah box. Saya dan sebuah box berwarna abu-abu itu harus menempuh perjalanan jauh dan selalu melewati pertanyaan-pertanyaan curiga tentang isinya.

Di Makassar, box itu aman sebab diangkat oleh buruh bagasi. Di atas kapal, seringkali pertanyaan muncul. Mulai dari petugas sampai para penumpang lainnya. Petugas kapal mencurigai isi box itu adalah udang. Bahkan ketika saya turun di kapal, seorang perempuan cekatan mendatangi saya dengan sejurus pertanyaan yang sama: “Apa isinya itu?” Saya kemudian dengan agak kelelahan karena beban berat box itu, menjelaskan isinya dengan kedua posisi tangan di pinggang.

Box itu selamat. Saya juga. Perjalanan selama 4 malam itu membuat saya lelah dan sempat mabuk laut. Di atas kapal saya bertemu dan bercerita dengan beberapa orang. Salah satunya Pak Sukri. Ia dengan segudang pengalaman merantaunya kepada saya bercerita tentang pantangan para perantau. Ia hanya menyebut dua hal: jangan ganggu istrinya orang, dan jangan menipu.

“Kalau dua mi itu dipegang, InshaAllah selamat ki’ dan pintu rezeki terbuka lebar,” terangnya. Pak Sukri sudah berkeliling di banyak daerah di Papua. Nabire, Biak, Wasior, Manokwari, Sorong, bahkan beberapa pulau yang ia sebut, belum pernah saya dengar namanya. Awalnya ia datang ke Nabire dengan tawaran proyek pembuatan perumahan sebagai supplier. Tapi ia ditipu, dan harus pergi ke dalam hutan untuk bersembunyi karena ia juga mempekerjakan beberapa orang yang tidak bisa ia bayar karena tidak ada dana yang turun. Dari situ, untuk memenuhi kehidupannya dengan menanam coklat setelah bertemu dengan seorang perantau lainnya. Uang hasil penjualan coklat ia tabung dan rencananya akan dipakai untuk pulang dan merantau ke tempat lainnya. Tahun lalu ia pulang ke Pinrang, dan mengolah sebuah tambak seluas 3 hektar. Nabire adalah tempat pertamanya di Papua, ia tidak ingat jelas tahunnya. Ia hanya mengatakan bahwa itu 10-an tahun yang lalu, berarti tahun 2007-an.

Saya lalu ingat karya Suyudi berjudul sompe’[1] yang dipamerkan di Makassar Biennale. Karya yang menceritakan tentang kehidupan perantau itu, bersentuhan dengan apa yang Pak Sukri katakan di atas. Saya membayangkan jika para perantau yang mengganggu istri orang, dan ia mengalami hal yang sama di kampungnya.

Selain Pak Sukri, saya juga bertemu dengan seorang penjual di kapal. Namanya Agus (disamarkan karena menyangkut dengan pekerjaannya). Ia menceritakan tentang bagaimana prosedur sehingga ia bisa berada di atas kapal tanpa membayar tiket. Tiket selama ia di atas kapal, menggunakan tiket din dong istilahnya (tidak dibayar penuh). Setiap bos punya 8 hingga 10 pekerja yang ia rekrut. Awalnya saya menanyakan tentang harga-harga barang yang melonjak di atas kapal. Ia mengatakan bahwa barang yang dijual sudah termasuk persenan yang akan ia dapat nantinya, sehingga ia harus menaikkan tiga ribu hingga lima ribu rupiah per barang. Sebagai bayangan, harga rokok surya di kapal seharga 30 ribu rupiah, pop mie seharga 15 ribu rupiah, air botol kemasan yang besar seharga 15 ribu rupiah, dan kopi seharga 10 ribu.

Setiap kapal tiba, akan berhamburan buruh yang menawarkan jasanya. Begitu pun Agus. Selain sebagai penjual, ia mencari uang tambahan dengan menjadi buruh. Tapi ia sembunyi-sembunyi karena takut dipukuli oleh buruh lokal di setiap pelabuhan. Caranya, setiap kali kapal sandar, ia akan segera berkeliling untuk menawarkan diri. Setelah ada yang menawar jasanya, ia bergegas mengganti baju biasa agar tidak ketahuan, kemudian turun mengangkat barang penumpang, berpura-pura sebagai keluarganya. Selain menjadi buruh, Agus juga kadang ‘menjual’ tempat tidur untuk penumpang. Inilah sebabnya, tempat tidur kita sebagai penumpang di kapal, tidak akan pernah sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Oleh sebab itu, jangan pernah coba mencari nomor tempat tidur yang sama di tiket dan di atas kapal, jika anda tidak ingin berakhir di rumah sakit dan tidak jadi naik kapal. Setiap penumpang yang naik, selalu mencari tempat yang kosong untuk diisi, bukan mencari nomor urut tempat tidurnya. Maka kata yang sering terdengar sewaktu penumpang mencari tempat, “ini kosong ‘kah?” Jika yang bertanya perempuan, saya seolah mengira yang ia maksud adalah hati saya yang kosong.

Bukan hanya Agus, setiap pelabuhan punya orang yang menjual tempat tidur penumpang. Bedanya, jika tempat yang ditawarkan oleh Agus tidak dibayar dengan uang, penumpang yang mengambil tempatnya hanya harus berlangganan dengannya jika ingin berbelanja. Agus punya dua orang anak di Surabaya. Keduanya bersekolah dan Agus melayarkan nasibnya pada sebuah kapal. Untuk satu trip perjalanan, ia kadang memperoleh 300  ribu. Satu trip memakan waktu enam sampai delapan hari. Jika dikalkulasi per bulan, ia hanya mendapatkan 900 ribu (karena ia tidak bekerja satu bulan penuh, tiap pekan ia beristirahat dua hari sembari menunggu kapal balik dari Jakarta ke Suarabaya). Hitungan ini sudah termasuk menjual tempat dan jasa menurungkan barang, ditambah lagi uang hasil berjualan di atas kapal. 300 ribu adalah hitungan bersih, setelah ia mengurangi biaya rokok per hari sebesar 30 ribu, karena makan ditanggung oleh bosnya.

Selain mereka berdua, saya bertemu banyak orang. Saya punya sebuah pengamatan: kesepian, apalagi di atas kapal, mengaruskan orang untuk berbincang untuk sekadar membunuh waktu. Saya sampai melihat seorang yang menghabiskan waktu di Café di atas kapal dengan bercerita dengan orang yang sama, yang dari pendengaran saya, mereka baru bertemu di atas kapal. Saya curiga, sedikit lagi mereka akan menjadi keluarga. Perbincangan, selain membunuh waktu, mempunyai efek pada tubuh sendiri. Saya mabuk laut karena terlalu banyak membaca buku. Setelah saya keluar dan bertemu Agus, mabuk laut saya sedikit hilang, agak lega. Kami berbincang selama hampir tiga jam, karena penumpang kebanyakan tertidur dan tidak memungkinkan baginya untuk berjualan di deck kapal. Di atas kapal, bertemu orang-orang baru adalah hal yang menyenangkan. Mendengar cerita dan pengalaman mereka, atau saling menghilangkan mabuk laut dengan obrolan lepas.

Saya sudah tiba di Nabire. Dengan sebuah motor pinjaman dari sepupu, saya melesat menuju rumah. Rumah yang sudah lama tidak ditinggali oleh keluarga kami. Rumah itu penuh rumput. Penuh tulisan corat-coret entah oleh siapa. Penuh juga ludah pinang. Informasi dari tetangga di depan rumah saya, rumah itu sering dijadikan tempat untuk berkumpul dan menenggak minuman keras. Saya baru membersihkan sebagian. Rencananya rumah itu akan saya buat sebagai perpustakaan dengan sedikit buku yang saya bawa.

Setelah mandi, berkeliling kota adalah sesuatu yang selalu saya lakukan setelah tiba di sini, di Nabire. Walaupun kadang bingung, untuk apa berkeliling dan tidak ada tempat yang disinggahi. Setelah menjalankan ‘ritual’ ketika sampai di Nabire, kemudian tertidur dengan perasaan-perasaan was-was, entah karena apa. Maghrib, saya bangun. Bermaksud mengunjungi salah satu taman baca yang ada di Nabire, Koname namanya, singkatan dari Komunitas Nabire Membaca. Tapi setelah dua kali berkeliling, tidak ada tanda-tanda. Kemudian saya dikonfirmasi oleh kawan saya, bahwa hari ini dia tidak bisa membuka taman baca karena sedang menjaga orang sakit. Malamnya kami bertemu, berbincang-bincang cukup lama tentang literasi. Sebelum bertemu dengannya, saya melihat-lihat Pantai Nabire yang sudah mirip pasar. Menyenangkan! Menghirup udara pantai yang segar, sambil menikmati beberapa jajanan di sana. Melihat siasat-siasat ekonomi warga di Nabire, membuat saya tersenyum sendiri.

Saya punya sebuah teka-teki untuk kawan-kawan saya ketika ingin memperkenalkan Nabire. Saya biasa menanyakan seperti ini, “Nabi apa yang masih hidup sampai sekarang?” dan mereka akan tertawa begitu saya menjawab Nabire. Dalam teka-teki itu ada harapan, bahwa Nabire akan terus hidup entah dari segi apa, yah, dalam segala hal pastinya. Walaupun beberapa orang yang saya temui, merasa hampir mati karena jaringan internet yang lambat dan tidak mendukung!

 

 

[1] http://makassarnolkm.com/masompe-ke-makassar-biennale/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s