Monere di Nabire

“Jika monumen adalah sebuah upaya untuk melupakan yang fana, maka di dalam monumen lalu disiratkan nilai-nilai yang setiap saat mampu menggugah, mengetuk, dan menggetarkan hati.”

– Avianti Armand

Empat orang sedang duduk di atas sebuah kerangka besi menyerupai pohon cemara yang rencananya akan dipasangi lampu hias. Lampu-lampu ornamen khas dari sebuah perayaan umat nasrani di seluruh dunia: natal. Yang unik dari pemasangan lampu-lampu ini adalah tempat ia meletakkannya. Di sebuah tugu bernama tinggal landas (biasa juga disebut tugu roket), yang bentuknya menyerupai sebuah roket yang seolah ingin terbang menuju langit, entah tiba di mana.

Foto Fauzan Al Ayyuby
Foto Fauzan Al Ayyuby

Tugu roket atau tinggal landas dari penamannya sama sekali tidak berhubungan dengan Nabire, Papua. Penamaan ini entah karena apa. Sulit untuk melacak asal-usulnya. Saya curiga, nama tinggal landas diberikan oleh sebuah perusahaan bernama CV. Tinggal Landas, atau sebaliknya, CV. Tinggal Landas mengambil nama dari tugu itu, entahlah.

Tugu dalam KBBI adalah Monumen yaitu Tugu Peringatan, tugu adalah sebagai tiang besar dan tinggi dibuat dengan batu dimana tugu sebagai tanda peringatan (kenang-kenangan). Istilah Tugu dapat disamakan dengan arti “Monument” dalam bahasa Inggris yaitu menurut kamus The New Oxford Illustrated Dictionary, Tugu adalah segala sesuatu yang telah melalui ketahanan yang sangat lama dipakai untuk mengenang seseorang, kegiatan atau kejadian.[1]

Monumen bukan sekadar sebuah statement, tetapi ia dibangun untuk ‘mengenang’.[2] Jika mendengar tinggal landas dan melihat monumennya, seperti tidak ada perasaan apa-apa, tidak ada kenangan apa-apa tentangnya. Mungkin ada, tapi itu terjadi setelah monumen itu dibangun. Tinggal landas hanya mengingatkan kita pada sebuah nama perusahaan. Meninjau pengalaman empiris di Indonesia, monumen adalah ekspresi atau kehendak dari pemegang hegemoni untuk menegaskan kekuasaan atau kekuatan dari kekuasaan tersebut. Karena itu monumen pertama didirikan untuk menguasaai ‘ruang’—bukan saja “ruang publik” dalam batas geometris dan geografis yang teraplikasi dalam desain tata ruang kota, tapi juga ruang yang dialami sehari-hari oleh khalayak, yakni ruang dalam kehidupan sosial mereka.[3]

Foto Fauzan Al Ayyuby
Foto Fauzan Al Ayyuby

Namun dengan berdirinya pohon natal yang sudah dua tahun diinisiasi oleh Komunitas Bihewa Fals Community (BFC) Nabire, monumen ini dikenang sebagai sesuatu yang menggugah, menjadi peristiwa kolektif, dan menjadi berfungsi ketimbang monumen yang tidak membuat kita mengingat apa-apa. Peristiwa toleransi lebih tepatnya. Di tengah maraknya isu agama di Indonesia ini, ada sebuah komunitas di Nabire, Papua, dengan semangat toleransi membuat sebuah monumen—walaupun yang ditampilkan adalah pohon natal—yang dikerjakan oleh berbagai latar agama.

“Ini usulan teman-teman, seperti tahun lalu juga kami buat. Dan untuk diketahui bahwa anggota komunitas kami terdiri dari berbagai agama. Bukan hanya Kristen tetapi non-Kristen juga ada,” kata Azther Keken Rumadas saat ditemui Jubi, Kamis (14/12/17).[4]

Tugu Roket menjadi titik nol kilometer di Kota Nabire.[5] Sebuah titik permulaan dan sebuah titik di mana keberagaman di bangun di atasnya. Lalu dengan keberagaman, masyarakat di Nabire melandasi diri pun dengan kedamaian. Walaupun di luar sana, keberagaman seperti purba di kepala-kepala ‘modernisme’ yang diasuh dengan baik oleh politik dan kota.

Ada banyak tugu di Nabire. Monumen yang dibangun untuk mengingat peristiwa dan kejadian di masa lampau ini, sampai-sampai dijadikan julukan untuk Nabire: Kota Tugu. Tugu Jam, Tugu Pattimura, Patung Karel Gobay, dan Patung Kembar.[6] Tugu seolah-olah menjadi penting untuk menandakan peristiwa, tokoh, atau bahkan sekadar kenang-kenangan. Dari nama-nama di atas, mungkin Karel Gobay, dan Patung Kembar yang menggunakan koteka adalah nama atau gambaran dari Kota Nabire sendiri.

Karel Gobay adalah orang yang sangat peduli terhadap aspirasi rakyat. Karel Gobay adalah  salah satu tokoh pemimpin yang memasang badan membela keinginan rakyat untuk tidak merestui keputusan New York. Dalam beberapa bulan terjadi masalah sosial, tetapi militer Indonesia lebih dulu menangkap dan menjadikannya seorang kriminal. Padahal sebagai pemimpin, Karel Gobay bertindak menyambung aspirasi masyarakat Paniai. Tetapi dengan kehadiran kekuatan militer Indonesia menyebabkan penekanan, Intimidasi, kekerasan, serta pembunuhan ribuan rakyat Paniai hingga kini. Sementara itu Karel Gobay ditahan dan mendapat stigma sebagai pemberontak terhadap Pemerintah Indonesia, walaupun sebagai Wakil Bupati Paniai di Nabire. Pada tanggal 1 Agustus 1995, ia tutup usia dan dimakamkan di Nabire, dipimpin oleh Thomas Degei, Ketua Klasis Nabire. Karel Gobay mati sebagai tahanan politik. Dia ditahan sebagai tahanan politik diluar dan hak-hak hidup  tidak pernah diperhatikan sebagai Pegawai Negara Republik Indonesia.[7]

Patung Kembar atau Tugu Koteka di Nabire terletak di depan Airpot. Sebuah simbol kebudayaan Papua yang dilestarikan dalam bentuk patung. Begitulah budaya, ia terkadang hanya dijadikan patung atau di atas panggung saja. Monumen dalam motif pembuatannya perlu diselidiki lagi. Apakah monumen itu dibangun untuk menegaskan kekuasaan, atau sebagai sebuah upaya untuk membuat kita merasa tergugah akan peristiwa lampau. Jika memang untuk menggugah perasaan, mengapa dengan melihatnya banyak orang masih merasa hampa? Atau jangan-jangan seperti kata Avianti Armand, hanya ‘ruang’ tersebut yang berbicara, sedang pada monumen itu sendiri telah terjadi pengosongan makna.

IMG_20171215_150401

Nabire, Papua, penuh dengan orang-orang yang militan. Mereka, para pendatang, dengan keberanian keluar dari daerahnya untuk menggantungkan hidup di Papua. Tapi apa guna militansi mereka di Papua jika hanya sekadar mengeruk? Membuat monumen-monumen ‘kemalasan’ dan ‘kumuh’ di tubuh orang asli Papua yang hidup sederhana. Sesederhana jajahan noken mama-mama di pinggir pasar, sedangkan para pendatang menempati ruko-ruko megah yang diberi cat warna-warni, seperti harapannya merantau ke Papua, atau meja persegi yang diletakkan beberapa tumpuk pinang di pinggir-pinggir jalan. Ah, tiba-tiba saya ingin makan pinang, merasakan kesederhanaan itu.

Begitu banyak orang-orang asli Papua yang juga militan. Di Nabire, saya bertemu Nomen, seorang pemuda yang aktif dan suka dengan literasi. Ia penyuka teori konspirasi. Kemudian ada juga beberapa pendatang yang lurus, yang berguna untuk tanah yang ditinggalinya. Lagi-lagi, saya hanya bisa menyebut Komunitas Nabire Membaca ([Koname] apakah hanya itu saja?) yang diinisiasi oleh beberapa pemuda pendatang. Ada beberapa nama lagi yang luput saya jelaskan. Di bidang politik, kesehatan, keagamaan, sosial, pemberdayaan, dan lainnya. Ada juga yang mungkin belum saya temukan. Saya tidak sedang membandingkan atau mengutuk para pendatang. Ini hanya refleksi saja, toh orang tua saya juga datang dan melahirkan saya di sini. Ada idiom yang pernah saya dengar untuk orang-orang pendatang yang lahir di Papua seperti saya: ‘Lahir-besar-tumbuh di Nabire’.

Tugu yang paling paripurna mungkin tidak dibangun secara fisik, tapi dia aktual. Tugu itu ada di kepala kita, ada di gagasan kita, tapi tugu itu fleksibel, tidak dibeton atau disemen seperti tugu-tugu fisik. Tugu itu yang akan kita kenang jika melihat hal yang sama: pergerakan! Apa yang mau kita kenang jika tidak ada yang bergerak?

Ataukah lagi-lagi seperti kata Avianti Armand, masihkah kita perlu monumen?

 

[1] Rony Purba, http://dedyrony.blogspot.co.id/2013/03/konsep-teoritis-pengertian-tugu.html, diakses pada 15 Desember 2017, pukul 17.11 WIT.

[2] Avianti Armand, Arsitektur yang Lain (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2017), hal 124.

[3] Avianti Armand, Arsitektur yang Lain (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2017), hal 125.

[4] Titus Ruban, Tablodi Jubi, https://tabloidjubi.com/artikel-12410-bfc-menghias-tugu-roket-di-nabire-jadi-pohon-natal.html, diakses pada 15 Desember 2017, pukul 16.39 WIT.

[5] Demianus Maweng. http://savenabire.blogspot.co.id/2015/07/normal-0-false-false-false_20.html, diakses pada 15 Desember 2017, pukul 16.45 WIT.

[6] Henk Akapakabi Yeimo, http://www.majalahbeko.com/2012/04/nabire-kota-tugu.html, diakses pada 15 Desember 2017, 17.20 WIT.

[7] Dr. Noakh Nawipa, http://papuapost.com/2016/07/karel-gobay-hidup-dan-karyanya/, diakses pada 15 Desember, pukul 17.36 WIT.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s