Rina Nose dalam Pengadilan Sosial

Tiba-tiba saja media sosial penuh dengan komentar tentang seorang artis yang melepaskan jilbabnya. Tiba-tiba saja, pengadilan sosial terbentuk secara bergerombol untuk menghakimi satu orang saja: Rina Nose. Hijab perempuan bagi saya adalah pengetahuan dan kesadarannya. Pengetahuannya tentang jilbab dan kesadaran memakainya, misalnya. Sebab inilah saya tidak terlalu suka dengan jargon.

Saya bukan pengamat artis. Bukan pula hakim. Saya hanya memberikan pandangan terhadap kondisi ini. Jilbab di kepala seseorang adalah objek dari subjek yang punya kesadaran. Misalnya, seorang nasrani tidak mungkin memakai jilbab karena dia sebagai subjek punya kesadaran bahwa objek dalam hal ini jilbab, adalah identitas dari golongan lain. Meskipun ini terdengar bodoh, saya hanya ingin membuat peta pemikiran dari cara berpikir saya yang masih dangkal.

Perlakuan subjek kepada objek, tidak bisa diklaim abadi, sebab subjek bergerak dengan kesadarannya yang dibentuk oleh pengetahuan dan pengalamannya melewati degupan waktu. Ketika Rina Nose melepaskan jilbab, ada sebuah gosip yang beredar: Rina Nose telah berpindah agama. Secara tidak sadar, masyarakat sebenarnya mengetahui bahwa subjek tidak tetap sebab dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman dalam bingkai ruang dan waktu yang terus berjalan. Mereka hanya tidak suka jika jilbab sebagai objek yang selama ini mereka pahami sebagai subjek, tidak seperti apa yang diketahui dan dialami oleh orang lain. Terlebih lagi, ini menyangkut keyakinan agama mereka. Yah, jelas lah. Pengalaman orang ‘kan berbeda-beda, walau satu agama. Tokoh agama kita saja masih sering berkelahi mengenai mana yang benar dan mana yang salah.

Jilbab, jika menggunakan analisis habitus Bourdieu, merupakan struktur subjektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur objektif yang berada dalam ruang sosial. Habitus boleh dikatakan sebagai ketidaksadaran kultural, yakni sejarah yang secara tak sadar dianggap alamiah, yang terbentuk dari hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat dalam arti yang luas.[1] Mungkin, jilbab dalam waktu yang lama menjadi sebuah ketidaksadaran kultural yang dialami oleh Rina Nose yang akhirnya disadarinya ketika berbenturan dengan realitas dan pengetahuan yang lain di dalam dirinya. Ini juga berlaku pada budaya patriarki yang selama ini telah menjadi habitus masyarakat Indonesia, sehingga perempuan selalu berada pada posisi yang inferior.

Saya tidak pernah melarang orang memakai jilbab. Justru secara pribadi saya menyukai perempuan berjilbab, yang pasti dipakainya secara sadar. Apalagi pada saat memegang sebuah buku, kemudian menerawang setiap makna di dalamnya dengan kacamatanya, kemudian tangan kanannya menggenggam kopi, kemudian saya datang dan duduk di sebelahnya … kemudian lebih baik paragraf ini disudahi sebelum saya sampai pada keinginan menikah dengannya, yang toh juga fiksi (dasar jomblo!).

Selain itu, ini adalah keputusan dan hak setiap manusia, untuk menentukan apa yang ingin dia pakai, lepas, atau apapun pada tubuhnya dan tentunya ini dilakukan secara sadar sebagai personal, bukan struktur sosial. Jika dirasa salah, sebaiknya kita memfasilitasi dan menemaninya ke jalan yang benar (Allahuakbar!), bukan malah menghukuminya. Perlakuan manusia pada tubuhnya tentu tidak bisa kita lihat secara dangkal, sebab tubuh dalam struktur diperlakukan dengan cara yang kadang tidak kita sadari dan disadari oleh beberapa orang, atau kita sadari dan terpaksa melakukannya. PSK misalnya, menjual tubuhnya dengan alasan kesadarannya sendiri, atau terpaksa melakukannya. Penekanannya di sini adalah menjadi hanya teman bicara, atau menjadi fasilitator agar tubuhnya secara personal, tidak lagi dibentuk dan dibingkai dalam struktur sosial yang timpang. Sehingga tubuhnya tidak asing bagi dirinya sendiri.

Keputusan yang diambil pun semestinya berdasar dan sadar. Menurut berita yang beredar, keputusan Rina Nose ini diambil setelah ia resah dan mulai membaca buku-buku filsafat.[2] Inilah yang saya maksud tadi. Pembacaannya secara subjektif, membuatnya memiliki pengetahuan dan kesadaran yang berkembang dari sebelumnya. Mungkin saja orang-orang yang berkomentar, tidak membaca buku-buku yang dibaca Rina Nose, atau mungkin saja membacanya, tapi tafsirannya tidak sama. Toh, tafsir objek tergantung subjek yang membacanya. Atau mungkin takut membaca buku-buku filsafat karena takut jauh dari Allah. Yah, terus apa gunanya Tuhan memberikan manusia akal untuk berpikir?

Saya pun tidak serta merta menjadi hakim untuk orang yang menghakimi Rina Nose dalam hal ini. Saya tidak ingin banyak perempuan berjilbab yang akan membenci saya, duh, maksudnya saya tidak ingin mencekal sesuatu yang saya pun lakukan. Sama seperti dalam melihat karya seni, Ahmad Anzul, seniman yang saya kagumi, mengatakan bahwa posisi harus dibelakangkan dalam melihat objek. Misalnya, niatnya memang datang untuk melihat karya untuk mencari jeleknya, yah, akan menjadi jelek tentunya. Sebaliknya, jika melihat itu sebagai kebaikan, yah, akan menjadi baik. Contoh mudahnya, jika kita melihat babi sebagai orang yang beragama Islam, itu akan menjadi haram, jika kita melihat babi sebagai orang yang beragama Kristen, itu menjadi halal. Lihatlah babi sebagai babi, sebagai hewan yang diciptakan Tuhan, pun sebagai mahluk hidup seperti kita.

Rina Nose bagi saya adalah manusia yang sedang berusaha akur dengan dirinya sendiri, kesadarannya sendiri, pengetahuannya sendiri. Seorang perempuan yang berani mengambil keputusan meski struktur sosial dan posisinya sebagai orang yang beragama Islam, membuatnya dihakimi secara massal. Sebuah pengadilan sosial yang tidak fair, jika kita semua memosisikan diri sebagai manusia. Saya tidak mengklaim bahwa dengan memilih Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu, kita tidak menjadi manusia. Kita semua adalah manusia yang secara sadar atau tidak sadar, memilih posisi untuk meyakini sebuah keyakinan bernama Agama. Rina Nose pun seperti itu. Memilih posisinya sendiri sebagai manusia yang sedang mencari. Kita harus mendukungnya. Entah kau perempuan, laki-laki, atau apapun, asal kau mau melihatnya sebagai manusia. Walaupun terkadang posisi yang kita ambil saat ini adalah warisan dari generasi terdahulu kita sampai ke kita dan mungkin akan berlanjut pada anak-cucu kita.

Pilihannya melepas jilbab, tentu saja tidak melepas haknya sebagai manusia. Mungkin di posisinya sebagai orang yang beragama Islam itu salah, tapi sebagai manusia dia sudah memilih. Justru kita harus bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita memilih posisi kita saat ini dengan sadar? Sudahkah kita membuat keputusan dan bertahan dengan keputusan itu tanpa memperdulikan posisi tubuh dalam struktur sosial? Tuhan maha baik. Ia memberikan kehidupan serta pilihan-pilihan pada kita. Sekali lagi, apakah kita semua pernah memilih? Selamat Hari Perempuan![]

Tulisan ini sebelumnya sudah terbit di Orazine edisi Feminisme. Diterbitkan ulang untuk keperluan publikasi. Artikel ini pun sudah ditulis sejak tahun 2017, bulan Desember. Namun diterbitkan karena masih hangatnya perayaan hari perempuan.

[1] Bourdieu dalam Himawijaya, https://himawijaya.wordpress.com/2010/09/18/161/, diakses pada 18 November 2017, pukul 4.28 WITA.

[2] Zulfa Ayu Sundari, http://showbiz.liputan6.com/read/3164916/sebelum-lepas-hijab-rina-nose-sempat-pelajari-ilmu-filsafat, diakses pada 18 November, pukul 4.44 WITA.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s