Sebuah Catatan Relawan Mama-mama Pasar Papua

Pasar sebagai ruang kompleks bertemunya warga, bukan hanya sekadar ruang pertemuan antara penjual dan pembeli, namun juga menyentuh hal lainnya. Pasar pun menunjang berbagai aspek: pembentuk kebudayaan, ‘pameran’ benda-benda seni, kearifan lokal, toleransi—sebetulnya dugaan awal ini mengacu pada proses tawar-menawar, corak arsitektur, penataan ruang oleh pemerintah, distribusi, produksi, pertanian, perikanan—dan menyentuh aspek ekonomi lainnya. Selain itu, pasar sebagai sebuah ruang di mana tendensi masyarakat lebih jelas terlihat dalam fragmen sosial.

Nabire sebagai salah satu kota di Papua yang menjadi sentrum ekonomi makro—dan mikro—yang bergerak dalam, salah satunya, aras pertambangan, menjadi begitu pelik dalam urusan pemberdayaan masyarakat yang terkena dampaknya. Ekonomi—mengerucut pada kebutuhan hidup—warga, khususnya di Papua, yang membutuhkan ruang untuk mengembangkan pertaniannya, harus melarikan diri ke kota sebagai ruang untuk memukimkan hasil-hasil tani di sebuah karung yang sudah dibelah, ataupun untuk bertani sebagai ruang produksi.

Tentu saja ini bukan saja menyoal pengambilan lahan semata, ini lebih menyangkut kepada sebuah kota yang telah diintervensi oleh berbagai macam kebudayaan yang di bawah oleh manusia dan dibentuk oleh cara manusia dengan kebudayaannya hidup dan menetap pada satu daerah. Dominasi menjadi kata kunci dari persoalan ini. Ketidaksiapan warga asli Papua yang terkena dampak, menyebabkan mereka harus berpindah bukan saja dari ruang, bahkan dari kebudayaan, walaupun cara mereka masih saja sama.

Pasar kemudian menjadi corak paling vulgar dari intervensi kebudayaan Papua oleh kebudayaan lain. Di pasar, kita bisa melihat dari pola ketersediaan, target konsumen, aroma yang menyeruak, dan tentu saja kuasa. Jika mengunjungi pasar, melihat pola ketersediaan pangan misalnya, bisa membuat kita, minimal menerka, bagaimana pengaruh satu kebudayaan terhadap kebudayaan lain. Papua yang mempunyai asupan karbohidrat dari umbi-umbian, sagu, dan lainnya, secara kebudayaan, di pasar mulai berganti dengan beras, jagung, dan lainnya. Pola ketersediaan pun tidak bisa kita lihat secara buta, dalam artian, satu jenis asupan karbohidrat tidak mewakili satu kebudayaan saja. Misalnya beras. Beras kemudian secara perlahan berhasil mengganti asupan karbohidrat orang Papua—secara paksa (Baca: MIFEE)—dalam jangka waktu yang cukup cepat karena ketersediaannya, dan karena umbi-umbian dan sagu tidak lagi mudah ditemukan. Mungkin karena pengambil-alihan lahan, atau barangkali pola bekerja dari bertani yang tidak lagi diminati.

pasamama3

Target konsumen di pasar pun mencerminkan bagaimana intensitas sebuah kebudayaan di satu daerah. Dari pola ketersediaan, kemudian kita melihat target konsumen, di mana kaitan ini menunjang sebuah aktivitas pertukaran barang dan aktivitas kebudayaan dengan sangat jelas. Pasar kemudian meruncing dalam sebuah dominasi, seperti yang dikatakan oleh Berta Gobay, di mana ia melihat pasar lokal dikuasai oleh orang-orang pendatang saja. Menurut Mama Berta, ini terjadi karena banyak mama-mama Papua yang menjual pangannya dengan harga murah ke orang-orang pendatang.

Para pendatang itu, kemudian mulai mendominasi pasar dengan menjual barang-barang yang didapat dari mama-mama Papua, dengan harga yang lebih mahal. Dikotomi antara pendatang dan mama-mama asli Papua, menjadi isu yang urgen. Di mana, seringkali diskriminasi lebih sering dialami oleh mama-mama Papua sebab cara mengemasnya, ditunjang lagi dengan lokasi pasar yang lebih bersih: ruko, atau sebuah tempat yang didominasi oleh mereka, lebih sering dikunjungi karena sedikit lebih bersih. Mama Yakoba Tekege, mengatakan hal yang sama. Ia mengatakan bahwa menjual di pinggir jalan menjadi sebuah dampak dari dominasi di atas karena tidak ada lagi tempat yang tersedia untuk mereka.

Pasar juga menjadi arena politik yang menjanjikan bagi para politisi. Di mana, seperti seringkali yang kita lihat di televisi, pasar dikunjungi oleh para politisi yang ingin maju dalam sebuah pemilihan, menjual janji-janji mereka. Bahkan diobral dengan murah(an). Mereka datang dengan sebuah janji yang dikemas dengan plastik abu-abu. Karena ketidakjelasan dan harapan palsu yang diberikan oleh politisi, mama-mama di pasar pun menganggap politisi hanya memanfaatkan mereka untuk melakukan pencitraan saja.

Yosina Pekey, seorang mama yang menjual pisang, sayur, dan lain-lain, di Pasar Karang dari tahun 1997, mengakui mereka banyak dikelabui oleh elit-elit politik yang menggunakan mereka sebagai alat kampanye saja, seperti penjelasan di paragraf sebelumnya. Absennya pemerintah dalam pembinaan-pembinaan mama-mama di pasar lokal Nabire, dikeluhkan oleh mama Yosina Pekey sebagai sebuah alasan yang cukup kuat, untuk melihat mandulnya pembangunan pasar. Juga tidak diaminkannya janji-janji yang dilontarkan oleh mulut mereka, para politisi. Ditambah lagi oleh Mama Agustina Kudiai, yang mengaku seringkali berpindah tempat karena tidak ada tempat tetap berjualan yang layak untuk mereka. Ketidakjelasan ini kemudian dilihat sebagai efek lebih lanjut dari carut-marutnya pasar dalam fragmen pengelolaan pasar.

Dominasi kemudian berpengaruh pada distribusi barang ke satu daerah. Melonjaknya permintaan di satu daerah dan tentu saja dominasi pendatang, membuat sebuah sirkulasi pangan berubah. Menanggapi itu, Mama Paskalina Gobay jelih melihat bagaimana import sayur-mayur yang didatangkan dari luar Papua, menjadi kendala lain yang harus ditutup aksesnya. Imbasnya, kebutuhan pokok orang Papua seperti pinang, sagu, dan lainnya, menjadi sepi karena dominasi pangan import yang lebih sering dikonsumsi. Masalah yang lain lagi, penjual yang setiap pagi menggunakan motor untuk berkeliling menjual sayur, menurutnya menjadi salah satu masalah yang membuat pasar mama-mama Papua menjadi sepi.

pasarmama1

Konflik di pasar kemudian menjadi penting untuk dicermati dan dicarikan solusi. Kita sedianya bersama-sama memfasilitasi pertemuan antara pedagang non pendatang dan pendatang juga pemerintah, untuk kiranya bersama-sama mengatasi ini. Mama Kornelia Goo, mengatakan bahwa pemerintah dan pedagang non Papua hanya menjadikan mereka ‘sampah pasar’ yang harus dibasmi. Arus ekonomi yang dikuasai oleh pedagang non Papua dikeluhkan oleh Kornelia Goo sebagai penghambat utama dari keuletan mereka memenuhi kebutuhan untuk anak-anak mereka. Jika sudah seperti ini, dominasi akhirnya melahirkan kecemburuan yang akut dan panjang. Dan kecemburuan itu memang berdasar, bukan cemburu buta.

Berbeda dengan mama-mama sebelumnya, Mama Elisabeth Ukago, mengatakan bahwa pasar sebenarnya terbuka juga untuk orang asli Papua. Hanya saja, ruko yang tersedia, dan diberikan kepada mama-mama Papua, justru dijual kembali dengan alasan yang entah apa—mungkin alasan ekonomi. Sebuah masalah yang akhirnya berkepanjangan, setelah tempat menjadi masalah utama mama-mama Papua yang menjual di pasar. Menurut saya, ini dampat dari pembangunan yang subjektif. Pemerintah dengan kekuasaannya, mengaku lebih mengetahui soal tata kota, yang mengakibatkan pembangunan mengalami corak yang pincang. Sebelum membangun, pemerintah seharusnya duduk bersama warga, secara partisipatif, objektif, kemudian mengakumulasi setiap pengetahuan warga tentang pasar. Setelah itu, diaktualkan dengan membangun sebuah pasar yang betul-betul diingankan oleh mama-mama Papua.

Pasar menjadi sebuah ruang dan isu yang kompleks dalam melihat bagaimana kota bergerak. Dominasi pendatang, tidak hanya pada takaran usaha makro saja, ia merengsek hingga menyentuh perekonomian warga asli Papua yang punya kultur bertani, dalam menjual hasil taninya.

Di Nabire ada 16 titik pasar. Titik ini diidentifikasi oleh Relawan Pasar Mama-mama Papua di Nabire. Relawan yang sudah kali melakukan pembagian. Membagikan payung dan lampu cas, pada mama-mama yang menjual pada malam hari. Pada pertemuan beberapa waktu lalu di KNPI, para relawan membahas bagaimana usaha dan cara yang digunakan tidak memanjakan mama-mama Papua. Memberikan sesuatu kepada mama-mama secara terus-menerus, ditakutkan akan menimbulkan sebuah pola ketergantungan yang akut. Padahal belum tentu yang diberikan kepada mereka, dapat dipakai dan digunakan dengan baik. Lampu cas, misalnya. Banyak mama-mama yang kemudian tidak menggunakannya lagi karena tidak mengetahui bagaimana caranya melakukan pengisian ulang baterai (cas) pada lampu yang telah dibagikan.

Penelitian pasar untuk mama-mama kemudian mencuat sebagai sebuah gagasan yang sangat bisa dipakai sebagai rekomendasi membangun mama-mama dan pasar. Pembangunan ini bukan saja menyasar bangunan fisik semata, tapi bagaimana membangun mama-mama untuk bersaing dengan pedagang non Papua yang ada di Kota Nabire. Proses dokumentasi, juga arsip, tentunya akan dilakukan untuk melihat perkembangan pasar dan bisa menjadi rekomendasi oleh pemerintah untuk membangun pasar secara objektif, berkualitas, dan tanpa dominasi, tentunya.[]

*Data mama-mama ini disadur dari pertemuan Relawan Mama-mama Pasar Papua dengan mama-mama pasar Papua di Nabire pada tanggal 27 September 2017 di KNPI.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s