Dari Jalan Menuju Cafe

Jalan sebagai sebuah pengertian, memiliki definisi yang beragam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saja, jalan dalam pengertian kata benda saja terdiri dari sebelas pengertian, sebagai kata sifat memiliki dua pengertian, dan sebagai kata keterangan memiliki satu pengertian. Jalan sebagai kata benda dalam KBBI berarti: Pertama, tempat untuk lalu lintas orang (kendaraan dan sebagainya). Kedua, perlintasan (dari suatu tempat ke tempat yang lain). Ketiga, yang dilalui atau dipakai untuk keluar masuk. Keempat, lintasan; orbitt (tentang benda di ruang angkasa). Kelima, gerak maju atau mundur. Keenam, putaran jarum. Ketujuh, perkembngan atau berlangsungnya (tentang perundingan, rapat, cerita, dan sebagainya) dari awal sampai akhir. Kedelapan, cara (akal, syarat, ikhtiar, dan sebagainya) untuk melakukan (mengerjakan, mencapai, mencari) sesuatu. Kesembilan, kesempatan (untuk mengerjakan sesuatu). Kesepuluh, lantaran; perantara (yang menjadi alat atau jalan penghubung). Kesebelas, kelangsungan hidup (tentang organisasi, perkumpulan, dan sebagainya).

Sebagai kata sifat, jalan dalam KBBI berarti: Pertama, berjalan. Kedua, melangkahkan kaki. Yang terakhir, sebagai kata keterangan, jalan dalam KBBI berarti: dapat dipahami; benar. Dari definisi di atas, tentu kita tidak bisa memakai logika hitam putih karena definisi ini menuntuk konteks untuk diaktualkan. KBBI pun tidak serta merta menampung banyak definisi dari impresi orang-orang terhadap jalan. Dalam artian, ada definisi subjektif manusia terhadap sesuatu, entah karena pengalaman, atau hal lainnya. Tampaknya jalan mengalami redefinisi dari masa ke masa, bukan saja dari konteks. Ada satu masa, walaupun kontekstual, definisi KBBI terhadap jalan tidak bisa dipakai sebagaimana mestinya karena impresi dan redenisi terhadapnya dengan berlakunya gagasan dominan.

Misalnya, jalan sebagai kata benda bagi orang-orang muda, adalah ruang ekspresi dari kepungan eksistensi. Jalan dijadikan alat untuk memamerkan skill ataupun non skill seseorang. Misalnya, di Nabire, Papua, kadang malam hari kau dapati orang mabuk memegang kayu panjang, atau markah jalan, untuk menutupi jalan. Saya punya pengalaman tentang ini. Ketika hendak pulang ke rumah di Jalan kendari, Kalisusu, saya dan teman saya beserta seorang lagi tiba-tiba harus berhenti karena orang mabuk yang memalang kami dengan markah jalan. Saya dan teman saya lolos dari pemalangan yang tanpa alasan ini—jika menuntut alasan, saya hanya bisa menyebut perihal penjajahan ruang-ruang ekspresi mereka—setelah menyebut nama seseorang yang terkenal garang dan berpengaruh di kompleks itu, yang kebetulan tinggal di depan rumah saya.

“Ini saya punya tanah yang kam ada tinggali,” kata orang mabuk itu kepada seorang yang memaksa lewat dengan cara-cara yang tidak halus, bahkan cenderung menantang. Saya akui, saya sering bingung jika berhadapan dengan orang mabuk. Sehingga saya harus menggunakan cara menyebut seorang patron agar bisa lolos dari pemalangan ini. Tapi kawan yang tidak saya kenali itu, justru menggunakan cara-cara yang lebih kasar. Bahkan dia sedikit membentak sehingga orang mabuk yang memalangi kami itu, marah. Saya tidak sempat melihat kelanjutan dan nasib apa yang menimpa kedua orang itu. Si pemalang dan yang terpalang. Yang saya tahu, jalan menjadi media eksistensi untuk mengungkit kembali keberadaan mereka—oleh si pemabuk—dengan perkataan, “Ini saya punya tanah.”

Selain memalang, yang cenderung dilakukan oleh orang asli Papua, para pemuda pendatang kebanyakan berekspresi di jalan dengan kelihaiannya untuk melakukan standing di atas motor, atau geber-geber dengan suara knalpot yang nyaring karena telah dibelah. Bahkan sembari melakukan itu, di trotoar jalan dan kadang di pinggir jalan, minuman keras diputar bergiliran untuk ditenggak hingga hilang setengah kesadaran. Budaya nongkrong di jalan ini, berlangsung setidaknya dari maraknya event roadrace yang memanfaatkan sirkuit dadakan di Jalan Merdeka, dengan rute mengelilingi Tugu Roket, titik nol kilometer di Nabire. Pada waktu siang hingga sore, bahkan sampai malam, orang-orang muda ini akan nongkrong di bengkel terlebih dahulu. Kemudian keluar pada malam hari untuk mengetes motor yang mereka rakit, atau hanya sekadar bertemu setelah melakukan janji dengan perkumpulannya.

Ini tidak saja berlaku pada kaum laki-laki. Jalanan menjadi arena untuk perempuan dalam ‘menebar pesona’ agar dilirik oleh para pria yang sedang nongkrong di pinggir jalan. Mengapa? Karena periode itu, perempuan yang memacari laki-laki yang mempunyai motor keren, akan meningkat derajatnya. Apalagi yang dipacarinya adalah seorang pembalap. Jalan kemudian menghadirkan idiom untuk para perempuan itu: Pantat Bensin, misalnya. Kecenderungan ini membuat saya menyimpul, bahwa yang dipacari oleh perempuan itu adalah derajat laki-lakinya. Eksistensi itu didapat berupa motor yang kencang, modifikasi yang wow, atau ketenaran yang didapatkan dari mengekspresikan diri di jalan.

Pada tahun 2013, Ariyadi Tahir, membuka sebuah café kecil yang pertama kali memanfaatkan biji kopi sebagai bahannya, menandingi kopi sachet yang pada waktu itu masih seringkali digunakan sebagai bahan dasar membuat kopi. Dengan harga lima belas ribu, banyak orang-orang yang heran dengan kopinya. Pasal bahwa kopi sachet hanya dibeli seharga seribu rupiah per bungkus, membuat pemikiran tentang kopinya menjadi ‘mahal’. Padahal, ia menggunakan biji kopi yang wajar jika dibanderol dengan harga segitu. Dengan bermodalkan tenda-tenda kecil dan kursi plastik, café kecilnya itu kemudian dibanjiri dengan pengunjung. Café-café lain pun bermunculan satu per satu. Bisa dibilang, ia adalah seorang perintis dari keberadaan cafe yang ada di Nabire.

1

“Bisa dibilang, saya yang bikin gempar kopi asli pakai biji, bukan sachet,” kata pria yang biasa akrab disapa Adi. Di Cofi Corner, café yang ia buka pada tahun 2017 dengan lokasi berbeda, harga kopi hitamnya masih sama: lima belas ribu rupiah. Hanya saja ditambah dengan beberapa produk manual brew, harganya meningkat sesuai alat yang digunakan. Satu harga vietnam drip dan V60, dihargai dua puluh ribu rupiah. Aero press, moca pot, dan alat manual lainnya, dihargai tiga puluh hingga yang palling mahal seharga enam puluh ribu rupiah.

2

Cafe yang ia buka pertama, tutup pada tahun 2014. Kemudian ia membuka lagi pada tahun 2016 dengan memanfaatkan sebuah lahan milik temannya, dekat bandara Nabire, dan sekitar tiga puluh hingga lima puluh meter dari lampu merah yang mengarah ke Pantai Nabire. Namun pada tahun 2017, ia membuka kembali cafe tepat di sisi kanan Tugu Roket jika dari arah kantor bupati.

“Tempatnya dulu orang sering minum di sini. Banyak anak-anak aibon[1] di sini. Banyak orang bilang, ‘beranimu itu buka café di situ’. Tapi saya buka saja. Sekarang, tidak ada mi orang minum-minum di sini,” kata Adi. Pria asal Palopo ini, merubah budaya nongkrong yang biasa dilakukan di jalan raya oleh orang-orang muda, merengsek masuk ke dalam meja-meja café. Tentu saja ia tidak melakukannya sendirian, café-café lain pun berkontribusi untuk itu. Mengapa? Café menjadi sebuah trend baru di kalangan muda, pun tua, sebagai sebuah ruang eksistensi seiring dengan masuknya jaringan internet ke Nabire dan bertambah banyaknya media sosial yang bisa dijadikan ruang kampanye diri.

Tentu saja masih ada orang-orang muda yang nongkrong di jalan. Tapi tidak sebanyak sebelum maraknya café-café yang ada di Nabire. Akses menuju café yang harus mengeluarkan biaya lebih dan tidak terjangkau oleh banyak orang, membuat ini menjadi mungkin. Apalagi anak jalanan yang kebanyakan orang asli Papua, masih banyak berkeliaran. Bisnis yang dilakukan Adi dengan cara membuka dan merinstis café di Nabire, bukan saja tata uang, namun tata ruang yang terpola, meski tanpa sadar, telah mengubah sedikit budaya nongkrong anak muda. Meski juga, dengan tambahan biaya.

3

Jalan tidak serta merta menjadi menakutkan jika meliahat kecenderungan orang muda di Nabire yang memanfaatkannya untuk mabuk-mabukan, misalnya. Atau ngebut-ngebutan. Jalan punya sisi-sisi yang harus direbut kembali. Misalnya, jalan bisa menjadi alternatif sabotase untuk mengganggu sirkulasi kapital yang menghubungkan perusaaan ke perusahaan. Demonstrasi, mungkin. Banyak istilah yang menggunakan jalan sebagai simbol untuk bergerak merebut ruang dan melawan kapitalis dan monopolinya: Pustaka jalanan, misalnya. Jalan juga bisa menjadi alat untuk menaklukkan pengetahuan sejarah akan suatu tempat. Jalan-jalan di kota kita mungkin ada yang tidak akrab dengan kita. Nama jalan sebaiknya mempunyai makna dan sejarah, ataupun hal yang berkaitan dengan peristiwa, momen, atau benda-benda yang menjadi jangkar ingatan kita. Namun, nama jalan kadang diubah sebagai upaya politis menghilangkan sejarah tempat atau daerah tertentu.

Jalan telah berkontribusi besar pada diri kita sebagai alat yang menghubungkan kita dengan tempat, peristiwa, atau momen-momen. Jalan juga menjelma ungkapan-ungkapan yang menghubungkan perasaan yang satu ke perasaan lainnya: ‘jalanin ajaaa dulu’. Sebuah kata yang mengantar perasaan menuju gerbang aktual berupa kebahagiaan, jika jalan itu tidak buntu. Saya masih mencari sebuah jalan yang selama ini urung ditemukan: jalan menuju hatimu. Bruakakakak.[]

Tulisan ini sudah diterbitkan di Orazine Pare-Pare yang dikelola oleh GudMud Educafe, pada edisi kelima, dengan tema ‘Jalan’.

[1] Lem yang biasa dihirup dan memabukkan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s