Impresi Penanggulangan Sampah

Apresiasi yang begitu besar ketika melihat mulai banyaknya komunitas yang tergerak untuk menangani-bersihkan sampah-sampah yang berserakan di lini-lini publik dan ruang-ruang yang dianggap tidak ‘indah’ ketika sampah bercokol di atas tanahnya. Pantai Nabire, misalnya. Beberapa komunitas motor pernah berkumpul dan melakukan aksi bersih-bersih sepanjang pantai yang setiap hari tidak pernah absen dari puluhan pengunjung dan beberapa penjual itu.

Saya pernah ikut sekali. Yah, walaupun saya tidak tergabung dalam komunitas motor manapun. Setidaknya saya ingin menunjukkan kesan tidak ekslusifnya sebuah kegiatan bersama meski dalam fragmen komunitas motor. Tentu kegiatan ini punya dokumentasi dan massa yang begitu banyak, mengingat geliat komunitas motor yang melonjak di kota ini. Bahkan sebuah koran ternama di Nabire meliput kegiatan ini.

Bagaimanapun menyembunyikan kesan ekslusif, impresi dari beberapa orang yang saya temui dan tanyakan pendapatnya tetap saja menyebut ini sebagai kegiatan anak-anak motor saja. Kita tidak bisa nafikkan, impresi dan objek—dalam hal ini sampah—dari apa yang dikampanyekan tidak akan jauh terpisah. Bisa jadi, impresi ini melahirkan sebuah idiom: “Sampah itu tugasnya anak-anak motor saja.” Sebuah hal yang seharusnya bisa kita hindari bersama, apalagi kegiatan ini mengajak orang untuk melek dan sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Impresi yang lahir belakangan bisa jadi, “Buang sampah saja, nanti anak-anak motor yang bersihkan.” Bisa saja begitu jika akar dari permasalahan sampah tidak segera dibenahi. Mengapa bisa? Bukan soal tidak tersedianya tempat pembuangan akhir, meski ini juga menjadi salah satu masalah yang harus segera diatasi, tetapi lebih kepada bagaimana perlakuan manusia terhadap alam dan impresinya kepada hal itu.

Ketika komunitas-komunitas datang, kemudian melarang orang untuk membuang sampah sembarangan dengan alasan kotor, dan alasan kotor kemudian berevolusi menjadi ‘nir keindahan’, orang-orang akan dengan mudah untuk menolak alasan ini. Mengapa? Karena tidak adanya rasa memiliki bersama seperti, misalnya dalam konsep masyarakat adat, hak ulayat, yang berpengaruh pada impresi mereka terhadap wilayah.  Mudahnya, “untuk apa mereka memikirkan persoalan estetik dari sebuah tempat yang bukan milik mereka?”

Mental warga pun tidak bisa disalahkan. Tentu saja pola yang sedang bermukim di Papua adalah pola-pola di mana warga dilepaskan rasa kepemilikannya terhadap sesuatu yang awalnya adalah miliknya. Bayangkan, hak-hak mereka dicabut demi kepentingan segelintir orang saja. Tentu saja ini berhubungan erat. Belum lagi, masalah ruang. Ruang-ruang warga yang seharusnya menjadi milik mereka sendiri, direbut-lepaskan dari ‘rasa’ memiliki.

Kemudian prinsip keterwakilan sebagai sistem politik yang telah lama menjadi racun bagi warga. Warga sudah terbiasa diwakili. Mental ini yang terbangun, hingga mungkin, perihal sampah pun harus bergantung kepada pemerintahan yang ada. Prinsip keterwakilan warga bisa dilihat dari partai politik atau anggota dewan yang lebih sering subjektif melihat persoalan warga. Mereka merasa paling tahu, sehingga warga hanya dianggap orang bodoh yang lebih cocok jika diwakili oleh mereka yang merasa pintar. Tentu saja tidak semua anggota dewan seperti itu. wallahualam.

Tentu saja pemerintah juga harus bertanggung jawab. Warga pun seharusnya bertanggung jawab atas persoalan sampah yang, minimal di sekitar kita. Karena sampah itu dari kita. Ini yang saya maksud. Penanggulangan sampah kurang berhasil juga metode yang kita pakai adalah metode menceramahi warga tentang ‘estetika’ yang sejak lama sudah direbut oleh sistem. Saya percaya, semua orang suka dengan kebersihan. Tapi kita juga harus paham posisi antara kebersihan dan subjektifitas pelaku kebersihan. Misalnya, orang-orang lebih suka membersihkan halaman rumahnya sendiri daripada halaman tetangga. Karena apa? Karena itu bukan punya mereka. Meski analogi ini konyol, cobalah tangkap motif dari mengapa seseorang bisa membersihkan sesuatu. Saya akan menyebutnya lagi: rasa memiliki.

Saya pernah berandai-andai. Jika sebuah pohon hanya ditebang batangnya saja, akarnya akan tetap tumbuh. Seperti itulah penanggulangan sampah di Nabire oleh, maaf, komunitas-komunitas yang ada di Nabire. Untuk itu, kita perlu berkumpul dan berkonsolidasi lagi guna menemu-ramukan cara yang lebih efektif untuk menanggulangi sampah yang ada di Nabire, jika mau. Saya juga melihat banyaknya komunitas yang mengedepankan ekslusifitas daripada bekerja secara kolektif untuk melakukan hal ini. Jadi, selain alat kampanye, saya juga melihat sampah dijadikan ajang lomba untuk memenangkan simpati dan tentu saja eksistensi di mata warga Nabire.

Pemerintah pun tidak boleh diam saja melihat masalah ini. Saya pernah dengar sudah ada tempat pembuangan akhir, hanya saja daya jangkau warga terbatas untuk mengakses itu. Tentunya ini harus dipikirkan oleh mereka. Jangan cuma tahunya hadiri undangan saja. Saya lalu teringat sebuah kutipan dalam film Captain Fantastic yang sering diucapkan dalam adegan film itu, “Manusia dinilai dari tindakannya, bukan perkataannya.”

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Misalnya dengan menciptakan sebuah ‘mitos’ tentang sebuah wilayah. Ini tentu saja bisa kita coba. Atau mengadakan sebuah kegiatan yang menggunakan sampah sebagai bahan utama membuat karya. Atau mengangkat sejarah wilayah agar wilayah yang sejarahnya diangkat, punya ‘sesuatu’ yang harus dipelihara. Bisa juga dengan membuat ‘bank sampah’ seperti gagasan yang seringkali muncul jika masalah sampah mencuat kembali. Atau mungkin hal-hal yang lebih efektif yang dikerjakan secara borongan dengan mengedepankan asas kolaborasi dan menghindari kesan ekslusif yang selama ini ditampilkan. Yah, mungkin bisa juga diperkuat dengan aturan atau ceramah oleh pemerintah jika memang hanya itu yang bisa dilakukan oleh mereka.

“Sampah yang di luar, yang dipungut-bersihkan oleh banyak komunitas itu hanyalah efek dari sampah di kepala. Jika yang di kepala belum bersih, susah untuk membersihkan sampah-sampah di luar dirinya.” Inilah ungkapan yang sering saya katakan kepada kawan-kawan saya ketika kami berdiskusi persoalan sampah yang ada di Nabire. Secara gamblang, saya pun pernah katakan bahwa sampah mungkin sengaja dipelihara untuk persiapan masa kampanye nanti. Tunggu saja. Mengingat tahun 2018 ini adalah tahun politik, mungkin saja akan banyak dimanfaatkan. Meski ini kegiatan yang baik, tentu saja kita tidak bisa menggantungkan kebersihan hanya pada masa waktu kampanye saja.

Tapi ini harus diapresiasi. Bagaimana kemauan lahir dari banyak komunitas, dan rasa memiliki yang menggerakkan mereka membersihkan sampah di kota yang mereka cintai ini. Kota yang mewadahi mereka tumbuh berkembang dalam kelurga bernama komunitas. Tidak ada yang salah. Hanya saja adalah sebab-sebab yang efektif dan sebab-sebab yang muncul dari sebab saja. Untuk itu mari tumbuh bersama.

Tapi ingat sekali lagi, rasa memiliki. Seperti pasangan, jika tidak ada rasa memiliki, mungkin kita akan terpisah dan tidak pernah akur dalam sebuah pelukan cinta yang utuh. Seperti jomblo yang bisa tersenyum melihat perempuan yang ia incar, bahagia. Setelah itu ia akan bersedih, karena sadar bahwa ia tidak memilikinya. Tapi perasaan jomblo bukan sampah, yah.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s