Magere’ Sapin dan Ingatan Masa Kecil

Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua manusia saja. Ia juga menjelma sebagai sebuah ruang bertemunya para kerabat jauh yang mungkin jarang sekali bertemu. Apalagi di daerah perantauan yang memang bukan habitus asli dari para perantau, sehingga jarak dan jeda mendepa begitu banyak waktu untuk sekadar mengobrol bersama. Ditambah motif untuk merantau, yang kebanyakan adalah motif ekonomi, sehingga dominasi itu membuat lokus bagi para perantau itu.

Saya lahir di Nabire dua puluh lima tahun silam, dari sepasang suami-istri yang meninggalkan kampung, Enrekang, kira-kira sejak tahun delapan puluhan. Kenangan masa kecil saya sebagian diisi dengan bertemu dengan para anak-anak perantau lainnya dalam sebuah acara pernikahan, akikah, arisan, atau apa saja di bawah lingkup kerukunan keluarga. Begitu menyenangkan. Mengingat bagaimana kami berlarian, mencari satu sama lain, ketika baru saja tiba di lokasi yang mengadakan perhelatan. Orang tua kami akan menginap minimal dua atau tiga hari untuk memasak, atau juga menyiapkan perlengkapan acara yang diadakan. Waktu yang cukup lama ketika harus berada di rumah bersama sepi ketika tidak ada lagi acara kerukunan. Tapi dua atau tiga hari di acara itu, begitu singkat kami rasakan.

Anwar Jimpe Rahman menulis dalam blognya: “Di kota, tetangga kita mungkin bukan rumah yang ada di samping. Tetangga kita adalah teman-teman dekat seperti Nunik”[1] Nunik adalah teman dekat Jimpe. Saya pun melihat pola yang sama ketika berada di Papua. Para perantau dengan senang akan bertemu dengan membopong serta anak-anaknya, karena merasa lebih aman. Saya masih ingat sekali. Seringkali saya dilarang untuk keluar lebih jauh dari rumah karena alasan yang begitu banyak. Lain halnya jika berada di sebuah acara kerukunan keluarga. Kami dibebaskan berlari ke sana kemari, bahkan melebihi batas-batas antara ketakutan orang tua dan kebebasan kami. Toh, mereka juga lagi sibuk di dapur.

Namun ketika tumbuh besar, kami yang dulunya biasa bertemu dan berlari bersama, terkadang bahkan malu untuk saling menegur. Rupanya waktu melipat begitu banyak keakraban di antara jeda panjang perjalanan kami bertumbuh. Tentu tidak semua. Ada beberapa di antara kami yang bahkan masih sama. Saya lalu teringat puisi Avianti Armand dalam buku kumpulan ceritanya berjudul “Kereta Tidur”. Bunyinya begini: “Aku mendengar kering saat langit dan matahari berwarna sama.”[2]

Singkat cerita, hari itu saya mengikuti serangkaian ritual sebelum nikahan dari seorang perempuan dari keluarga kerukunan Enrekang, yang akrab disapa Ica. Pagi-pagi sekali, setelah bergembira melihat Barcelona dan Manchester City tumbang dari lawan-lawannya, saya langsung bersiap untuk mengangkat seng dari Kalibobo, menuju ke Samabusa. Jaraknya kurang lebih tiga puluh kiloan.

Barcelona dan Manchester City adalah dua tim yang sedang berada di puncak klasemen dalam dua liga yang berbeda. Barcelona di liga Spanyol, dan Manchester City di liga Inggris. Dua tim yang memberi dua alasan pada saya untuk berbahagia. Pertama, dua tim ini sudah terlalu lama merasakan kemenangan, dan itu membuat para fansnya lebih sering mengejek daripada diejek. Saya menyukai Chelsea. Saya menjadi korban ejekan fans Barcelona setelah mereka munumbangkan tim kesayangan saya. Dan itu seperti patah hati. Begitu juga dengan fans Manchester City yang mengejek saya ketika Chelsea ditumbangkan. Untuk Manchester City, kegembiraan saya lebih pada melihat impresi fansnya ketika tim kesayangan mereka dikalahkan setelah tak terkalahkan dalam banyak laga sebelumnya. Raut wajahnya itu loh.

Kedua, tentu saja merayakan kemenangan tim lain. Memberi mereka rasa yang sama ketika tim kesayangannya kalah. Seperti perasaan saya ketika Chelsea dikalahkan. Saya pernah mengatakan pada fans Barcelona seperti ini: “Ibarat orang berhubungan, toh. Chelsea itu masih diputuskan pas pacaran. Kalau Barcelona, diputuskan saat sudah mau nikah. Sakit ‘kan?” Kegembiraan ini masih terbawa sampai hari ini.

Ketika saya mengangkat seratus sembilan puluh empat seng, rasa gembira itu seperti bantu memikulnya. Saya dan dua teman saya memutuskan untuk mengangkat lima seng per orang. Kami harus pulang-balik beberapa kali sebelum selesai. Sebelum mengantar seng ke rumah kerabat yang menikah, kami terlebih dahulu harus singgah untuk mengangkat dua ratus kursi lagi. Kami menggunakan truck. Sekitar jam sembilan pagi, kami sudah sampai di lokasi dan dengan sigap harus turun.

“Turun dulu, minum-minum sama makan kue,” kata salah seorang dari puluhan orang tua yang sedang menyusun bambu sebagai landasan dari seng-seng yang kami angkut. Kalau saya tidak salah, istilahnya Masumbung bola. Bahkan dia menyuruh kami duduk saja ketika kursi dan seng diturunkan. Seperti estafet pekerjaan.

Seng diturunkan satu per satu. Begitu juga kursi. Pandangan saya tertuju pada bagaimana cara mereka menanam bambu dan mengukur tingga tiap bambu, hanya dengan perkiraan dan seutas tali. “Pasti pengalaman sekali mi ini,” kata saya dalam hati. Bambu-bambu itu disusun sedemikian rupa, sehingga seng-seng bisa menutupi seluruh halaman rumah yang akan dipakai untuk menggelar acara. Seng-seng diletakkan di atas bambu, kemudian ditimpali lagi dengan kayu besi atau bambu lagi, karena seng itu rencananya tidak dipaku. Saya curiga, seng itu sengaja tidak dipaku agar bisa dipakai lagi untuk acara-acara yang lain.

Beberapa kali, saling ejek terdengar di antara mereka. Tentu saja bercanda agar lelah tidak cepat datang, atau justru sebaliknya, agar lelah cepat pergi. Ada yang salah menanam bambu dan salah lokasi, ada yang ingin menanam bambu tapi tak ada kawan untuk memegangnya, ada yang ingin memotong bambu tapi perkakas masih dipakai orang lain, sebuah pola yang sudah sering dipraktekkan. Bahkan jika sepintas dilihat, semua bergerak sesuai dengan inisiatifnya sendiri, dan jarang sekali salah.

Salah satu orang tua di sekitar kami, mengajak kami untuk mendirikan dapur. Kami pun bergerak mengikuti dengan mengangkatnya sebagai ‘kepala tukang’. Kami berdiskusi tentang jarak antara bambu, agar tenda yang dipasang nanti, bisa menutupi dengan teduh, dan juga menghindari hujan yang bisa saja datang sewaktu-waktu lalu merubuhkan tenda itu. Saya bagian membuka tali jemuran yang kebetulan terlentang di bawah tempat yang akan dipasangi tenda. Namun ketika tali terakhir dipasang, ibu dari Ica, perempuan yang akan menikah, mengatakan bahwa sisakan beberapa tali, sebab ia ingin menjemur. Namun seperti kata sudah di ujung lidah, saya mengatakan bahwa akan membuatkannya di tempat lain.

maspul8

Saya kemudian berpikir, ibu dari perempuan itu ingin menjemur sementara rumahnya sedang disibukkan oleh masak-memasak. Sungguh, beban seorang perempuan yang benar-benar berat dan melelahkan. Tentu saja tidak ingin membandingkannya dengan para laki-laki yang sedang menyusun rangka untuk mengatapi halaman. Jika di kota, mungkin perempuan lain akan me-loundry pakaiannya saja. Mungkin, atau sama saja.

Tenda sudah didirikan, setelah banyak pertimbangan dari orang tua lain yang mengatakan bahwa sebaiknya diatapi juga bagian dapur itu. Tapi banyak yang mendukung ‘kepala tukang’ kami untuk memakai tenda saja. Perdebatan antara orang tua pun tak bisa dihindarkan. Saya merasa aneh, ketika salah seorang anak mudah berkata, “Kita itu buruh, jadi ikuti saja.” Tentu saja sambil tertawa. Akhirnya tenda tetap dipasang. Sekitar jam satu siang, kami baru pulang dengan kendaraan yang sama. Saya tidur pulas. Rasa gatal akibat bambu tidak mengganggu sama sekali. Bahkan saya terbangun jam setengah enam sore. Tentu saja dengan senyuman dari bayang-bayang kekalahan Barcelona dan Manchester City.

Lusanya, saya menuju ke sana lagi. Kali ini untuk memotong sapi. Tapi di lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat dilangsungkannya acara nikah. Begitu banyak obrolan yang meletup begitu saja, sembari menunggu pemotongnya datang. Kerabat jauh yang jarang bertemu, bernostalgia seperti anak muda mengenang mantan kekasihnya. Menikmati kue-kue yang disediakan, serta minuman dingin sebagai pendorong kue itu ke dalam lambung, pagi itu terasa seperti sarapan besar yang diadakan oleh keluarga yang anak-anaknya pulang dari merantau, atau sekolah.

maspul4

Akhirnya pemotong sapi itu datang. Dengan parangnya yang kilap, ia bersiap menuju ke arah sapi yang akan dipotong. Awalnya empat orang menuju sapi itu untuk mengikatnya di sebuah pohon, agar tidak liar, kemudian dijatuhkan. Posisi jatuh tentu saja memudahkan sapi untuk dipotong. Seseorang datang membawa belahan kelapa yang sudah dipotong, dengan arang yang masih menyala. Kemudian semangkok air putih juga disiapkan. Kemudian tiga orang mengarahkan leher sapi ke atas, lalu ibu dari Ica, perempuan yang menikah itu, memegangi kepalanya. Air dalam ember besar akhirnya disiram ke arah leher sapi itu oleh seorang lelaki, lalu berjalan memutar dan menyiram bagian kanan tubuh satu yang jatuh.

maspul3

Belahan kelapa itu diletakkan di dekat sapi, kemudian air dalam semangkok tadi, dipegang oleh ibu perempuan yang akan menikah, lalu membasuh sapi itu. Parang sudah dipegang di atas belahan kelapa. Sepertinya diasapi. Lalu si pemotong datang. Setelah merapal beberapa doa, ia lalu memotong sapi itu. Daun pisang dipegang di atas sapi, juga di dekat lehernya. Darah lalu mengucur. Anak-anak kecil melihatnya sembari memegang handphone untuk merekam itu, tentu dengan sedikit rasa takut. Setelah sapi benar-benar mati, kemudian diangkat ke arah atas, lalu dikuliti pelan-pelan di atas tenda berwarna biru.

Potongan demi potongan masuk ke dalam baskom, lalu sekantong pelastik daging, diserahkan lebih dulu pada si pemotong sapi tadi. Sambil bercanda, sapi kemudian telah menjadi potongan-potongan kecil yang siap diolah menjadi sup, atau makanan apa saja yang akan tersedia dalam acara pernikahan nanti. Kemudian saya bergegas pulang setelah segala urusan potong memotong selesai dilakukan.

Malamnya saya kembali. Bermaksud untuk mengikuti lomba domino yang diadakan oleh keluarga yang anaknya akan menikah. Setelah bermain hingga jam tiga subuh, saya mendapatkan hadiah setelah berhasil menjadi juara empat pada lomba itu. Sepasang gelas “Mug Papa Mama Pelangi” saya dapatkan. Kata seorang ibu yang keluar setelah acara selesai, “Hadiah sayang istri, makanya begitu.” Saya tertegun. Pasalnya, mungkin saja beberapa orang tua yang saya lawan tadi, akan menyenangkan istrinya dengan membawa hadiah-hadiahnya. Saya? Ahhh… sudahlah![]

 

[1] Anwar Jimpe Rachman, https://saintjimpe.blogspot.com/2017/06/si-gadis-kota-menginap-di-rumah-tetangga.html, diakses pada 17 April 2018, pukul 10.12 WIT.

[2] Avianti Armand, Kereta Tidur (PT. Gramedia, Jakarta), halaman 11.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s