Impresi Penanggulangan Sampah

Apresiasi yang begitu besar ketika melihat mulai banyaknya komunitas yang tergerak untuk menangani-bersihkan sampah-sampah yang berserakan di lini-lini publik dan ruang-ruang yang dianggap tidak ‘indah’ ketika sampah bercokol di atas tanahnya. Pantai Nabire, misalnya. Beberapa komunitas motor pernah berkumpul dan melakukan aksi bersih-bersih sepanjang pantai yang setiap hari tidak pernah absen dari puluhan pengunjung dan … Lanjutkan membaca Impresi Penanggulangan Sampah

Iklan

Dari Jalan Menuju Cafe

Jalan sebagai sebuah pengertian, memiliki definisi yang beragam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saja, jalan dalam pengertian kata benda saja terdiri dari sebelas pengertian, sebagai kata sifat memiliki dua pengertian, dan sebagai kata keterangan memiliki satu pengertian. Jalan sebagai kata benda dalam KBBI berarti: Pertama, tempat untuk lalu lintas orang (kendaraan dan sebagainya). Kedua, … Lanjutkan membaca Dari Jalan Menuju Cafe

Sebuah Catatan Relawan Mama-mama Pasar Papua

Pasar sebagai ruang kompleks bertemunya warga, bukan hanya sekadar ruang pertemuan antara penjual dan pembeli, namun juga menyentuh hal lainnya. Pasar pun menunjang berbagai aspek: pembentuk kebudayaan, ‘pameran’ benda-benda seni, kearifan lokal, toleransi—sebetulnya dugaan awal ini mengacu pada proses tawar-menawar, corak arsitektur, penataan ruang oleh pemerintah, distribusi, produksi, pertanian, perikanan—dan menyentuh aspek ekonomi lainnya. Selain … Lanjutkan membaca Sebuah Catatan Relawan Mama-mama Pasar Papua

Polarisasi Non Papua dan Beras

Polarisasi ruang publik di Nabire berujung pada satu dominasi: pendatang. Alhasil, orang Asli Papua (OAP) mengalami gelombang surut ‘jumlah’ eksistensi di tanahnya sendiri. Gelombang ini merujuk pada banyak hal. Transmigrasi salah satunya. Program pemerataan penduduk yang digalakkan oleh Soeharto lewat programnya itu, mengutip Wenas Kobogau (2016): “migrasi penduduk dari daerah lain ke Papua, termasuk lewat … Lanjutkan membaca Polarisasi Non Papua dan Beras

Honai Perempuan untuk Perdamaian

“Perempuan mati, di bawah jembatan. Darah rahimhya tumpah membasahi dunia. Dunia yang mudah lupa pada banyak luka. Dunia yang sudah lama berkelamin pria” -Kutipan lagu Yab Sarpote (Perempuan Mati di Bawah Jembatan) “Film ini mencoba mengangkat sebuah tema besar, yaitu, dari korban ke perdamaian. Jadi kita tidak bermusuh dengan siapa-siapa,” kata Mama Ema. Harapan Mama … Lanjutkan membaca Honai Perempuan untuk Perdamaian

Sore di Pantai Nabire

Tiba-tiba saja, perempuan di samping kanan saya tersenyum. Saya mengira, senyuman itu adalah segaris bibir mengembang dari titik takdir pertemuan pertama kami. Ternyata hanya saya yang mengada-ada. Malam itu begitu dingin setelah hujan membuat panik manusia-manusia yang tak begitu suka dikagetkan peristiwa alam. Mereka berteduh. Padahal, setiap hujan absen menyentuh tanah, mereka mengaku rindu. Saya … Lanjutkan membaca Sore di Pantai Nabire

Literasi: Belajar Mencintai

Foto Nomen

“Jika bumi adalah ibu. Kita manusia memperkosa ibunya. Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik. Jika laut adalah ibu. Kita manusia memperkosa ibunya. Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik. Jika hutan adalah ibu. Kita manusia memperkosa ibunya. Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik.” (Sisir Tanah-Bebal) Penggalan lirik lagu Sisir Tanah … Lanjutkan membaca Literasi: Belajar Mencintai

Pasar dan Rumah

Pasar bukan sekadar menjadi ruang ekonomis saja. Di pasar, kehidupan berjalan dengan kompleks. Mulai dari kehidupan malam yang muram, hingga pencari pakan ternak yang mengais sisa-sisa pembuangan. Pasar menjadi hal yang lain. Khususnya bagi mereka, pencari pakan ternak berupa babi di Nabire, Papua. Sesuatu yang kumuh, terkadang dipelihara sebagai aset untuk kampanye politik. Sampah, misalnya. … Lanjutkan membaca Pasar dan Rumah

Sampah dan Sumpah

“Biadab, babi, anjing. Stop buang sampah di sekitar sini. Ko mati, sampah timbun ko.” Begitu bunyi tanda larangan yang lebih mirip sumpah serapah. Tiba-tiba saja, sampah membuat orang begitu agresif dalam menyumpahi orang-orang yang pun tak kalah agresif membuang sisa-sisa limbahnya di sembarangan tempat. Saya berencana berjalan-jalan sore ketika itu, namun begitu kaget serta geli … Lanjutkan membaca Sampah dan Sumpah

Pasar Karang yang Karam

Jam enam pagi, saya belum tertidur. Mata ini belum tertutup setelah semalam memutuskan untuk pergi ke sebuah pasar yang ada di Kota Nabire. Memanaskan air, menaruh kopi dan gula di dalam sebuah gelas, lalu mencampur-adukkan keduanya setelah air mendidih. Tidur adalah masalah lain bagi saya. Sejak di Nabire, saya tidak pernah bangun di bawah jam … Lanjutkan membaca Pasar Karang yang Karam