Sebuah Catatan Relawan Mama-mama Pasar Papua

Pasar sebagai ruang kompleks bertemunya warga, bukan hanya sekadar ruang pertemuan antara penjual dan pembeli, namun juga menyentuh hal lainnya. Pasar pun menunjang berbagai aspek: pembentuk kebudayaan, ‘pameran’ benda-benda seni, kearifan lokal, toleransi—sebetulnya dugaan awal ini mengacu pada proses tawar-menawar, corak arsitektur, penataan ruang oleh pemerintah, distribusi, produksi, pertanian, perikanan—dan menyentuh aspek ekonomi lainnya. Selain … Lanjutkan membaca Sebuah Catatan Relawan Mama-mama Pasar Papua

Iklan

Polarisasi Non Papua dan Beras

Polarisasi ruang publik di Nabire berujung pada satu dominasi: pendatang. Alhasil, orang Asli Papua (OAP) mengalami gelombang surut ‘jumlah’ eksistensi di tanahnya sendiri. Gelombang ini merujuk pada banyak hal. Transmigrasi salah satunya. Program pemerataan penduduk yang digalakkan oleh Soeharto lewat programnya itu, mengutip Wenas Kobogau (2016): “migrasi penduduk dari daerah lain ke Papua, termasuk lewat … Lanjutkan membaca Polarisasi Non Papua dan Beras

Khasiat Pasar Oyehe dan Obat-obatan

“Bulu ini berhubungan langsung sama ‘barang’ gaib,” kata Zainal, pria 36 tahun yang menunjukkan bulu perindu kepada saya. Dua helai bulu berwarna hitam kecoklatan yang dibungkus dengan uang seribu rupiah, dikeluarkan dan diletakkan pada bekas cipratan air, lalu mengapitnya pada ibu jari dan jari telunjuk. Dua bulu yang kata Zainal berjenis kelamin laki-laki dan perempuan … Lanjutkan membaca Khasiat Pasar Oyehe dan Obat-obatan

Honai Perempuan untuk Perdamaian

“Perempuan mati, di bawah jembatan. Darah rahimhya tumpah membasahi dunia. Dunia yang mudah lupa pada banyak luka. Dunia yang sudah lama berkelamin pria” -Kutipan lagu Yab Sarpote (Perempuan Mati di Bawah Jembatan) “Film ini mencoba mengangkat sebuah tema besar, yaitu, dari korban ke perdamaian. Jadi kita tidak bermusuh dengan siapa-siapa,” kata Mama Ema. Harapan Mama … Lanjutkan membaca Honai Perempuan untuk Perdamaian

Sore di Pantai Nabire

Tiba-tiba saja, perempuan di samping kanan saya tersenyum. Saya mengira, senyuman itu adalah segaris bibir mengembang dari titik takdir pertemuan pertama kami. Ternyata hanya saya yang mengada-ada. Malam itu begitu dingin setelah hujan membuat panik manusia-manusia yang tak begitu suka dikagetkan peristiwa alam. Mereka berteduh. Padahal, setiap hujan absen menyentuh tanah, mereka mengaku rindu. Saya … Lanjutkan membaca Sore di Pantai Nabire

Pasar dan Rumah

Pasar bukan sekadar menjadi ruang ekonomis saja. Di pasar, kehidupan berjalan dengan kompleks. Mulai dari kehidupan malam yang muram, hingga pencari pakan ternak yang mengais sisa-sisa pembuangan. Pasar menjadi hal yang lain. Khususnya bagi mereka, pencari pakan ternak berupa babi di Nabire, Papua. Sesuatu yang kumuh, terkadang dipelihara sebagai aset untuk kampanye politik. Sampah, misalnya. … Lanjutkan membaca Pasar dan Rumah

Sampah dan Sumpah

“Biadab, babi, anjing. Stop buang sampah di sekitar sini. Ko mati, sampah timbun ko.” Begitu bunyi tanda larangan yang lebih mirip sumpah serapah. Tiba-tiba saja, sampah membuat orang begitu agresif dalam menyumpahi orang-orang yang pun tak kalah agresif membuang sisa-sisa limbahnya di sembarangan tempat. Saya berencana berjalan-jalan sore ketika itu, namun begitu kaget serta geli … Lanjutkan membaca Sampah dan Sumpah

Pasar Karang yang Karam

Jam enam pagi, saya belum tertidur. Mata ini belum tertutup setelah semalam memutuskan untuk pergi ke sebuah pasar yang ada di Kota Nabire. Memanaskan air, menaruh kopi dan gula di dalam sebuah gelas, lalu mencampur-adukkan keduanya setelah air mendidih. Tidur adalah masalah lain bagi saya. Sejak di Nabire, saya tidak pernah bangun di bawah jam … Lanjutkan membaca Pasar Karang yang Karam

Dari Transmigrasi hingga Calon Istri

Sore masih mentah. Langit dan matahari di punggug bumi masih diayun oleh waktu. Hanya ada seorang anak berusia enam tahun yang telanjang tanpa helai pakaian di tubuhnya, maju-mundur mengikuti ritme ombak pada tepi. Sesekali ia tertawa, jika ombak tak menyentuh kakinya. Sepuluh meter ke arah darat, sepasang suami istri, orang tua dari anak itu sedang … Lanjutkan membaca Dari Transmigrasi hingga Calon Istri

Melayari Nasib dan Pulang ke Kampung

Stom kapal berbunyi seperti teriakan ibu memanggil anaknya pulang setelah seharian bermain pasir di laut. Saya bergegas, menyiapkan diri untuk turun ke bawah, menginjak tanah kelahiran saya, Nabire, Papua. Menggendong sebuah tas, kemudian turun mencari teman untuk mengangkat buku-buku bacaan yang sengaja saya bawa di dalam sebuah box. Saya dan sebuah box berwarna abu-abu itu … Lanjutkan membaca Melayari Nasib dan Pulang ke Kampung